WETalk Business

Perempuan Berdaya dari Perspektif Islam (WETalk Business Ep. 4)

Selasa, 26 Oktober 2021 – Segmen WE Talk Business dalam podcast Mulai Dari Nol kembali mengudara. Pada episode keempatnya, mengangkat tema tentang Perempuan Berdaya dari Perspektif Islam.

Narasumber yang dihadirkan adalah Mak Shuffah sosok ibu berdaya dari rumah yang terus mengajak para Muslimah untuk memperbaiki bacaan Quran dan terus kembali ke Quran dan berperan sebagai host adalah Mak Widhya.

Berikut rekap obrolan serunya.

Mendengar istilah women empowerment diartikan pemberdayaan perempuan. Jika dilihat artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berdaya artinya memiliki kemampuan melakukan sesuatu, kemampuan bertindak. Maknanya sesederhana melakukan sesuatu, melakukan ikhtiar, melakukan aksi. Jika dikaitkan dalam islam, berdaya dapat dimaknai sebagai beramal.

Women empowerment adalah perjuangan para perempuan dalam mewujudkan aspirasinya, dalam menjalani mimpi-mimpinya juga cita-citanya. Dimana dalam mewujudkan sesuatu tentu dimulai dari sebuah aksi, sebuah ikhtiar, sebuah amal.

Islam mengatur semuanya secara terperinci dalam Quran. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyaknya ayat-ayat Quran yang menerangkan tentang beramal dan bekerja. Salah satunya dalam QS. At-Taubah ayat 105.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Poin penting yang bisa disarikan dari ayat di atas:

  • Beramallah

Saat seseorang beramal maka Allah, Rosul, dan orang-orang mukmin melihatnya. Bahwa apa yang dilakukan tidak hanya dirinya sendiri yang mengetahui, tapi tetap yakin bahwa apapun yang dilakukan, sejatinya adalah amal yang dilihat oleh Allah. Saat mengingat ini, tentu siapapun tidak akan menyepelekan sebuah amal, sekecil apapun amal itu. Karena ada keyakinan yang terus ditumbuhkan bahwa amal tersebut sedang dinilai oleh Allah. Hal ini juga menjadi peringatan bagi setiap muslim untuk melakukan amalan-amaan secara profesional atau itqon.

  • Bekerjalah

Setiap muslim diajak mengingat mengapa harus terus beramal disetiap detik, terus melakukan suatu aksi, terus berdaya, karena yakin suatu saat akan dipanggil Oleh-Nya, akan kembali kepada-Nya. Maka waktu di dunia adalah waktu untuk beramal, berdaya, melakukan aksi-aksi kebaikan sebagai bekal berpulang kepada Allah. Ayat ini tidak ditujukan kepada laki-laki saja ataupun perempuan saja. Melainkan seluruh hamba Allah, tidak mengenal gender.

Ayat di atas mustinya membuat setiap insan untuk lebih bersemangat dalam beramal dan berbuat kebaikan tanpa henti.

Pemberdayaan perempuan memuat dua sisi kewajiban sekaligus hak. Kewajiban adalah dari sisi seruan untuk bekerja, beramal, beraksi. Dimana ini adalah bentuk pemberdayaan diri dalam melakukan sesuatu.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl:97)

Dari ayat di atas, manusia diberikan bayangan apa yang akan diberikan oleh Allah saat mengerjakan amal-amal kebaikan. Ini seperti hak atau balasan langsung dari Allah berupa kehidupan yang lebih baik saat berusaha menjadi perempuan berdaya.

Islam dengan aturan-aturan yang ada menjadikan perempuan sebagai kaum yang dimuliakan. Seperti perintah menutup aurat adalah bentuk penjagaan besar dari Allah. Islam sangat memuliakan perempuan.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS. An-Nisa: 124)

Saat laki-laki dan perempuan melakukan amal kebaikan, Allah tidak membedakan besaran pahala. Dari segi pekerjaan, laki-laki dan perempuan berbeda, namun perbedaan ini bukan bentuk pilih kasih dari Allah. Jikapun ada perbedaan adalah dari peran dan fungsi yang dijalankan.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An-Nisa:32)

Perbedaan sifat alami ini yang akan membedakan kewajiban dan peran. Namun dari segi balasan amal, tidak ada perbedaan.

Islam tidak menghilangkan dan tidak membatasi kebebasan perempuan. Perempuan tetap diperkenankan bekerja, menuntut ilmu, berpendapat, dan melakukan aktivitas lainnya asal tetap sesuai dengan fitrahnya.

Kunci perempuan berdaya dalam islam agar mampu terus mendayagunakan aksinya ada dua. Pertama, mengetahui peran utamanya. Perempuan memiliki peran utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Mengapa peran ini mejadi utama? Karena peran ini tidak bisa dipindahalihkan kepada laki-laki. Hal ini berkaitan dengan kemampuan reproduksi.

Kemampuan mengatur rumah tangga juga adalah milik perempuan. Ini merupakan amanah jika ibu adalah rabtul bait.

Namun apakah sampai di situ peran perempuan di dunia ini? Sementara di luar sana banyak peran yang sangat memerlukan peran perempuan. Misalnya menjadi seorang guru, dokter kandungan, dan peran-peran lain yang cukup penting diisi oleh perempuan.

Selain memiliki peran utama, perempuan juga memiliki peran di masyarakat. Ada tanggung jawab yang melekat untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup orang banyak.

Khadijah menjadi bukti sejarah nyata dari kisah masa lalu tentang bagaimana perempuan berdaya dengan perannya di masyarakat. Banyak diceritakan bahwa beliau memimpin kafilah dagang, yang juga berhasil dalam usahanya namun tidak melupakan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Dikisahkan pula bahwa Khadijah adalah orang pertama yang mengakui keislaman Rasulullah SAW dan mendukung dakwah.

Selain itu, Aisyah ra. juga perempuan yang pandai dan melakukan perannya sebagai seorang pengajar karena masa itu dibutuhkan perannya sebagai seorang guru. Banyak pula cerita sahabiyah lain yang juga turun ke medan perang, ada pula yang berperan sebagai perawat. Ini bukti bahwa perempuan tetap bisa menjalankan perannya sesuai fungsinya, sesuai kemampuannya, dan sesuai fitrahnya.

Kunci kedua adalah tentang keseimbangan (tawazun). Perempuan tetap perlu seimbang dalam menjalankan peran-perannya. Tanpa melupakan pemenuhan hak-hak objek dimana ia berinteraksi. Saat di rumah sebagai istri dan ibu, maka berkewajiban memenuhi hak suami dan anak-anaknya. Saat menjalankan peran di luar, maka berkewajiban memenuhi hak sesuai perannya. Prinsip keseimbangan ini menjadi penting agar tidak ada yang terdholimi.

Dua hal di atas menjadi kunci agar perempuan dapat mendayagunakan potensi yang sudah Allah titipkan. Semua dilakukan agar dapat menjalankan misi-misi kehidupan dunia.

Perempuan perlu menjaga keyakinan bahwa akan kembali pada Allah SWT maka sebaiknya dapat memenuhi seruan-Nya yaitu bekerjalah atau beramallah. Amal-amal atau aksi-aksi yang dilakukan ini akan menjadi bekal untuk kembali kepada Allah.

Closing statement dari Mak Shuffah adalah hendaknya tidak berhenti untuk beramal dan berdaya karena akan menjadi bekal untuk kembali kepada Allah di surga-Nya kelak.

Lebih lengkap dapat disimak dalam spotify Mulai dari Nol.

Ikuti juga info-info seru dari instagram Mulai dari Nol.

#Ardena

#MulaiDariNol

#BerkaryaDariRumah

#PemberdayaanPerempuan

#BerdayadariRumah

#ibupembaharu

#bundasalihah

#darirumahuntukdunia

#hexagoncity

#institutibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

WETalk Business

Kesehatan Jiwa dan Perempuan Berdaya(WE Talk Business – Ep. 3)

WETalk Business Ep.3

Selasa, 19 Oktober 2021, segmen WETalk Business kembali mengudara di Spotify. Pada episode kali ini menghadirkan narasumber Mak Alfia Fajarina Rahmawati, Apt., LCPC atau biasa akrab disapa Mak Inaak atau Coach Inaak (IG: nakinaak) yang adalah seorang Certified Professional Coach. Acara dipandu oleh host Arista (IG: momrista)

Sebagai seorang Coach Life and Business, mak Inaak lebih banyak berperan menjadi ‘cermin’ atau partner belajar sekaligus mendampingi coachee untuk berprogres menuju tujuan.

Satu dekade belakangan, istilah Kesehatan Jiwa mulai banyak didengungkan. Dulu ketika ada yang seorang teman mengatakan, “Kesehatan jiwamu sepertinya terganggu.” Kalimat ini sering diartikan dengan “Kamu gila.” Namun kini maknanya tidak sesempit itu.

Itulah mengapa kini ada hari peringatan kesehatan mental dunia, salah satunya untuk menghilangkan stigma tersebut. Supaya setiap orang dapat lebih memperhatikan pentingnya Kesehatan Jiwa seseorang. 

Lebih lanjut Mak Inaak berpesan, bahwa ganggungan kondisi kesehatan jiwa seseorang itu jangan sampai menunggu menjadi berat. Karena sesuatu yang berat itu pasti dimulai dari yang ringan. Maka akan lebih mudah jika seseorang dengan masalah atau gangguan mental yang ringan sudah mendapat perhatian ataupun support sedari dini.

Saat ini banyak diantara perempuan yang tidak menyadari jika di dalam dirinya sedang mengalami masalah. Perempuan jamaknya lebih sering memendam masalah, menolak jika ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya, dan tidak berusaha menuntaskan masalahnya. Lebih parah lagi jika merasa dirinya baik-baik saja.

Cara untuk mengetahui bahwa ada suatu masalah yang belum beres dalam diri seseorang perlu dilakukan assessment oleh psikiater. Namun ada cara mudah untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa seseorang bila kita mengacu pada WHO. Yaitu seseorang dinyatakan sehat jiwa jika memiliki kriteria sebagai berikut;

  • Mampu mengenali potensi dirinya
  • Mampu mengatasi stress/tekanan sehari-harinya (daily life stress)
  • Produktif 
  • Bermanfaat untuk orang lain.

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa satu dari lima orang atau sekitar 20% penduduk Indonesia mempunyai potensi-potensi masalah kesehatan jiwa. 

Wajarnya, stress akan meningkat jika beban kerja meningkat. Saat sedang di kantor, sesesorang akan lebih mudah fokus karena di kantor terkondisi untuk fokus. Namun saat kebijakan Work from Home (WFH) diberlakukan, banyak perempuan yang merasa overwhelmed. Pekerjaan di kantor dituntut untuk selesai dengan tanpa mengabaikan kewajiban menyelesaikan perannya di ranah domestik.

Tips ringan yang bisa dicoba dalam mengatasi hal tersebut adalah dengan mengenali terlebih dulu penyebab sumber stress. Biasanya berasal dari keinginan untuk mengendalikan hal-hal diluar kendali kita. Semakin besar memikirkan hal tersebut, sudah pasti akan semakin tinggi pula tingkat stress seseorang.

Pertanyaannya, apakah kita lebih banyak memikirkan sesuatu yang diluar kendali kita atau yang dalam kendali kita? Silakan ditanya kembali ke dalam diri. Kaidahnya, kita tidak dapat mengubah lingkungan kita apalagi orang lain. Kita hanya bisa mengubah diri sendiri dan merespon seperti apa terhadap hal-hal di sekitar kita. 

A Global Community of Mental Health Innovators menuliskan bahwa “There can’t be no health sustainability development without mental health”. Tidak mungkin terjadi pertumbuhan jika tidak ada Kesehatan mental. 

Kesehatan jiwa juga sangat erat kaitannya dengan produktivitas. Penelitian menunjukkan depresi dan kecemasan berpengaruh signifikan pada ekonomi global. Lingkungan kerja juga membawa pengaruh besar terhadap produktivitas pekerjanya.

Workplace yang baik tentu memerhatikan kesehatan mental pada pekerjanya. Kantor besar seperti google, facebook dibuat senyaman mungkin seperti laiknya tempat bermain. Karena para owner-nya percaya jika para pekerjanya sehat mental akan lebih tinggi produktivitasnya. 

Mak Inaak kemudian berbagi pengalamannya selama menjalani profesi sebagai Life and Business Coach. Salah satunya saat menemani sesi coaching bersama seorang pemilik usaha. Dimana omset perusahaan berada di angka yang sama atau tidak mengalami pertumbuhan sama sekali. Setelah digali lebih lanjut ternyata owner mengalami mental block. Yaitu hambatan psikologis yang menghambat program pikirannya, juga ketidakmampuan owner dalam memberdayakan sumber daya di sekitarnya yang akhirnya menjadi penghambat pencapaian tujuan perusahaan. 

Keputusan harus diambil dalam kondisi tenang, tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Tips yang disampaikan Mak Inaak untuk para Maksay untuk bisa mulai berdaya lagi adalah dengan mulai dari nol, mulai dari mengenali diri sendiri. Dan percaya bahwa KESATRIA ada dalam diri setiap orang.

Mak Inaak bersama Tim Sadar Emosi (SaE) mengajak setiap perempuan untuk bisa KESATRIA (KEnali, SAdari, TeRIma, dan kelolA). Mulai mengenali apa yang dirasakan, lalu menyadari jika diri sedang tak baik-baik saja, kemudian menerima kondisi tersebut, dan berusaha mengelola emosi dengan baik.

KESATRIA menjadi penting karena saat seseorang tak mampu mengenali apa yang dirasakan, tak mampu menamai emosi diri, biasanya respon yang muncul tidak jelas. Bisa marah-marah atau tantrum sendiri. Saat seorang ibu mampu mengelola emosi dengan baik, maka ini bisa diterapkan juga ke orang lain di dalam keluarganya, termasuk ke anak-anaknya. 

Jika sudah terbentuk sehat jiwa, insyaallah perempuan akan lebih berdaya dan lebih melejit potensi dirinya. Cukup dengan fokus terhadap apa yang menjadi kendali kita, apa yang kita pikirkan, bagaimana perasaan kita, apa yang kita ucapkan, dan apa yang bisa kita lakukan dalam membentuk Kesehatan Jiwa.

Demikian rangkuman pemaparan Mak Inaak. Lebih lengkapnya silakan simak di Spotify 🥰

WETalk Business

Perempuan Berdaya: Antara Minat, Bakat, Hobi, dan Passion (WETalk Business Ep-2)

WETalk Business Episode-2

Perempuan Berdaya: Antara Minat, Bakat, Hobi, dan Passion (WE Talk – Ep. 2)

Rabu, 13 Oktober 2021, segmen WE Talk kembali mengudara di spotify. Tema yang diangkat pada kesempatan kedua tersebut adalah tentang Minat, Bakat, Hobi, dan Passion.

Mak Ida Nayu dari Tim Pradajiva sekaligus praktisi Talents Mapping dihadirkan sebagai narasumber. Ditemani Mak Deska, obrolan ringan sarat makna mengalir selama kurang lebih 26 menit.

Berikut wrap up obrolannya.

Sebagai pembuka, Mak Ida menyampaikan bahwa perempuan terbiasa menjalani multiperan. Pada setiap kesempatan, seolah perempuan dituntut untuk mengenali diri sendiri sebelum mengenali yang lain. Begitu pula saat bertindak. Perempuan perlu mempelajari lingkungannya dengan cepat.

Ada sebuah tools yang bisa digunakan dalam mengenali diri. Tools tersebut banyak dikenal dengan Talents Mapping (TM). Lebih jelas Mak Ida menjelaskan bahwa TM adalah sebuah tools yang digunakan untuk membantu seseorang dalam mengenali dirinya sehingga mendapat gambaran tentang bagaimana pola berpikir, pola merasakan, dan pola berperilaku seseorang yang alami. Alami dapat diartikan sebagai sesuatu yang sudah ada di dalam diri seseorang.

Ketika seseorang menjalani peran, tentu perlu menyesuaikan dengan kekuatannya. Sekaligus melengkapi apa yang menjadi kekurangan dirinya dengan berbagai cara positif. Terdapat perbedaan istilah yang banyak dikenal di masyarakat maupun secara Bahasa TM tentang bakat. 

Dalam keseharian, bakat kerap dikaitkan dengan aktivitas yang dikuasai oleh seseorang. Seperti bakat bernyanyi, bakat menulis, bakat berolahraga, dan lain sebagainya. Namun dalam TM, bakat adalah sifat bawaan yang tertanam dalam diri dan menentukan perilaku seseorang.

Secara umum TM diyakini mampu menjadi salah satu tools yang efektif dalam pengambilan keputusan dan bersikap. Dari pembahasan di atas, maka kombinasi antara kekuatan dan kelemahan satu perempuan dengan yang lainnya pasti berbeda. Tidak ada yang sama persis.

Kombinasi tersebutlah yang menjadikan seorang perempuan lebih berdaya dengan apapun perannya. Tidak mungkin akan membuat diri berdaya jika tidak mengenali diri. Perempuan perlu memulai dari nol.

Mulai dari mengenali sifat-sifat alami serta kepribadian diri. Setelah berkenalan dengan diri, maka diharapkan seorang perempuan mampu menentukan mana peran yang tepat untuk dijalankan. Peran tersebut perlu diambil secara sadar sehingga bermanfaat bagi sekitar. Minimal untuk lingkaran terkecilnya.

Mak Ida lebih rinci membahas tentang empat poin penting yang perlu diperhatikan dalam menentukan peran. 

  1. Enjoy (Perempuan perlu menyenangi perannya)
  2. Easy (Perempuan merasa mudah saat menjalankan peran tersebut) 
  3. Excellent (Jika perempuan excellent dalam berperan, berarti ditunjang oleh bakat alaminya)
  4. Earn (Mendatangkan kebahagiaan maupun income)

Perempuan di era ini, dengan segala multiperan yang melekat erat dalam diri, mulai mengabaikan kesejahteraan psikologisnya. Enjoy tidak lagi dirasa penting. Maka mulai muncul pikiran “Yang penting kerjaanku selesai” atau “Yang penting rutinitas keseharianku selesai”. Inilah yang banyak dilatih di sekolah juga di tempat bekerja. 

Jika empat poin yang dijelaskan Mak Ida di atas hilang poin enjoynya, sebagai poin pertama, inilah yang disebut kompetensi. Betul hal ini bisa dilatih, bisa ditempa. Keadaan yang memaksa perempuan berlaku demikian. Namun hal ini akan sangat melelahkan dan tidak akan maksimal dalam menjalankan perannya.

Lalu bagaimana perempuan akan berdaya jika setiap aktivitasnya tidak merasa enjoy sebagai sumber energi Bahagia? Jawabnya adalah inilah saatnya perempuan kembali merenung dan kembali menyadari bahwa setiap perempuan adalah makhluk yang istimewa.

Sebagai pernyataan pada sesi penutupan, Mak Ida menyampaikan pesan untuk para perempuan. Meski tidak sempurna, memiliki banyak kekurangan, tapi sangat penting untuk menyadari bahwa dirinya adalah spesial, dan limited edition. 

Saat perempuan mampu berdaya dengan segala keunikan dirinya, apapun pilihan perannya, saat itulah dirinya akan menebar manfaat.